Cover: THR: apa yang tinggal setelah uangnya habis? | BukuAnakku
23 September 2026

THR: apa yang tinggal setelah uangnya habis? | BukuAnakku

Pagi Lebaran, hampir setiap anak tahu persis apa yang akan terjadi. Sungkem dulu, lalu peluk, lalu tangan yang masuk ke saku. Salam tempel adalah salah satu kebiasaan kita yang paling bertahan: yang tua memberi, yang kecil mengumpulkan, dan malamnya semuanya dihitung di atas kasur dengan ketelitian seorang akuntan.

Kebiasaan itu indah dan tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Tetapi hampir semua orang yang pernah memberi mengenal perasaan yang sama: dua hari kemudian tidak ada yang ingat berapa dan dari siapa. Uangnya sudah berubah menjadi mainan atau habis di warung depan, dan Lebarannya selesai.

Tulisan ini bukan ajakan untuk meniadakan THR. Ini tentang pertanyaan yang datang tepat sesudahnya: apa yang bisa menemaninya, dan tetap tinggal setelah uangnya habis?

Keluarga bersungkem pada pagi Lebaran

Kenapa jumlahnya terlupa dan momennya tinggal

Salah satu temuan yang paling konsisten dalam penelitian psikologi tentang pengeluaran adalah bahwa orang mengingat pengalaman jauh lebih baik daripada barang. Dalam studi rujukan Van Boven dan Gilovich yang terbit pada 2003 di Journal of Personality and Social Psychology, peserta diminta mengingat kembali satu pembelian barang dan satu pengalaman dengan nilai yang sama. Pengalamannya diingat dengan lebih bahagia dan dinilai lebih baik seiring berjalannya waktu, sementara kesan atas barangnya memudar dengan cepat.

THR berada persis di tengah keduanya: ia adalah uang yang berubah menjadi barang. Dan yang tersisa di ingatan anak bukanlah nominalnya, melainkan siapa yang memberi dan bagaimana caranya. Kakek yang mengeluarkan lembaran dari saku dalam. Tante yang menyiapkan amplop kecil dan menuliskan namanya di depan. Detail seperti itulah yang masih diceritakan dua puluh tahun kemudian, bukan angkanya.

Yang bisa menemani amplopnya

Jadi pertanyaannya bukan “berapa”, melainkan “apa lagi”. Sesuatu yang kecil, yang bisa dibuka pada hari yang sama, dan yang masih ada ketika uangnya sudah lama habis.

Di sinilah sebuah buku punya keunggulan yang aneh tetapi nyata: buku dibaca berkali-kali. Penelitian Horst, Parsons dan Bryan yang terbit pada 2011 di Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa anak kecil justru menyerap lebih banyak kata baru ketika buku yang sama dibacakan berulang-ulang, dibandingkan ketika mereka mendengar buku yang berganti-ganti terus. Pengulangan itu bukan kebosanan; pengulangan itu justru cara kerjanya.

Artinya hadiah yang sama dibuka lagi, dan lagi, dan lagi. Bukan sekali pada pagi Lebaran, melainkan setiap malam sepanjang tahun.

Ketupat yang dianyam dari daun kelapa

Lebaran yang mana yang layak dijadikan cerita

Kalau bukunya tentang anak itu sendiri, ada satu pilihan yang harus diambil: momen yang mana. Pengalaman kami, yang paling berhasil adalah momen yang agak menyimpang, bukan yang sempurna.

Beberapa yang berulang kali kami dengar dari keluarga:

  • Mudik yang macetnya sepuluh jam, dan apa yang akhirnya dilakukan di dalam mobil.
  • Malam takbiran, pertama kalinya ia boleh ikut sampai larut.
  • Baju baru yang ternyata gatal, atau kebesaran, dan tetap dipakai seharian.
  • Ketupat pertama yang ia anyam sendiri bersama neneknya, dan hasilnya yang berantakan.
  • Sungkem kepada kakek yang tahun ini sudah tidak bisa berdiri.
  • Salam tempel yang ia bagi diam-diam dengan adiknya.

Yang membuat cerita-cerita itu bekerja adalah bahwa semuanya benar-benar terjadi. Anak yang mengenali rumahnya sendiri, mobilnya sendiri, dan neneknya sendiri di dalam sebuah buku, membacanya dengan cara yang sama sekali berbeda. Kalau Anda ingin melihat bagaimana sebuah momen berubah menjadi cerita, halaman tentang cara kami mempersonalisasi sebuah buku menjelaskan apa yang bisa Anda ubah dan di mana batasnya.

Keluarga berkumpul di meja Lebaran

Tiga hal kecil yang membuat perbedaannya besar

Sebutkan namanya, bukan cuma “anak”. Anak yang menemukan namanya sendiri tercetak di halaman pertama memperlakukan buku itu sebagai miliknya, bukan sebagai buku pinjaman. Semua buku yang ada namanya berangkat dari titik itu.

Sertakan satu orang yang bukan orang tuanya. Kakek, tante, sepupu, atau tetangga yang setiap tahun datang. Justru orang-orang itulah yang membuat Lebaran terasa seperti Lebaran, dan mereka hampir tidak pernah masuk ke dalam buku anak.

Tulis satu kalimat di halaman terakhir. Kalimat dari yang memberi, dengan tanggalnya. Itulah bagian yang paling sering dibaca ulang bertahun-tahun kemudian, dan itu yang mengubah sebuah buku menjadi barang simpanan.

Bukan pengganti, melainkan pendamping

Salam tempel tetap akan menjadi salam tempel, dan memang sebaiknya begitu. Menghitung uang di atas kasur pada malam Lebaran adalah bagian dari kenangan itu sendiri.

Tetapi kalau Anda ingin ada sesuatu yang bertahan lebih lama daripada dua hari, sesuatu yang bisa dibuka lagi pada Lebaran berikutnya dan berikutnya lagi, maka sebuah cerita tentang anak itu sendiri adalah pendamping yang lebih baik daripada mainan kesekian. Bukan karena lebih mahal, melainkan karena ia dibaca berkali-kali.

Kalau Anda ingin melihat-lihat dulu momen apa saja yang bisa dijadikan cerita, semuanya ada di toko buku kami.

👉 Buat buku Lebarannya sekarang

Anak Anda sebagai tokoh utama

Buat seluruh bukunya dalam beberapa menit dan baca dulu setiap halamannya. Anda baru membayar setelah melihat semuanya.

  • Baca seluruh buku sebelum membayar
  • Anak Anda di setiap halaman, digambar dari foto Anda
  • Hardcover premium, biasanya tiba dalam 8 hari kerja
Mulai gratis